ASAL USUL
Asale Omah Demit Klaten Dulunya Gudang Mesiu

Senin, 27/11/2017
Omah Demit di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Omah Demit di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)

Asal usul Omah Demit di Klaten dulu merupakan gudang mesiu.

Semarangpos.com, KLATEN — Omah demit yang berada di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, awalnya adalah gudang mesiu atau patrum, sejenis bahan peledak. Patrum digunakan untuk menambang bukit gamping di dukuh setempat pada zaman penjajahan Belanda.

Jumairi, 48, Ketua RT 008/RW 018, Dukuh Mojopereng, Krakitan, mengatakan di bukit itu terdapat dua gudang patrum. Awalnya, lahan di sekeliling gudang itu memiliki ketinggian yang sama. Namun, aktivitas penambangan mengakibatkan terbentuknya cekungan-cekungan di banyak lokasi.

“Orang lalu menamai gudang patrum itu dengan sebutan omah demit karena enggak bisa roboh padahal usianya tua. Padahal, gudang yang satunya kan sudah roboh,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com di rumahnya beberapa waktu yang lalu.

Jumairi mengatakan patrum dibawa dari Magelang dan disimpan di bukit itu. Setiap hendak meledakkan, petugas menyalakan sirene dan kentungan ke permukiman di sekitar bukit. Warga diimbau bersembunyi di tempat yang aman. Biasanya peledakan dilakukan pagi hari.

Tanah bukit itu lantas dibawa ke Gondang untuk diolah jadi gamping. “Dulu serpihan ledakan bisa sampai pasar sekitar 500 meter dari bukit. Setiap genteng yang pecah terkena serpihan mendapat ganti rugi sesuai harga genteng waktu itu,” kenang dia.

Penambangan menggunakan patrum dihentikan oleh pemerintah Indonesia. Sebab, mesiu digunakan untuk latihan militer. Kendati demikian, aktivitas pertambangan berlanjut secara manual oleh warga sekitar dan warga pendatang.

“Sekarang masih ada penambang tapi tak sebanyak dahulu,” beber dia.

Saat ini, bukit itu disulap menjadi kawasan wisata yang menyajikan pemandangan tanah padas. Sejumlah gazebo dibangun lengkap dengan tangga untuk akses naik ke bukit.

“Banyak yang ke sini sekadar foto-foto oleh model atau untuk prewedding. Komunitas pecinta alam hingga anak PAUD juga sering ke sini di akhir pekan,” tutur Jumairi.


Iklan Cespleng

    Iklan belum ada yang tayang.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/semarang/elements/themes/mobilev3/ads/cespleng-300.php on line 34
Pasang Iklan Anda!

ARTIKEL LAINNYA
Warga menghidupkan mesin sepeda motor yang terpasang di tugu buatan warga Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Selasa (20/2/2018). (Taufiq Sidik/JIBI/Solopos) KISAH UNIK : Tugu Motor Klasik Klaten, Bukti Solidaritas Komunitas Yamaha 70-an
Adegan ketoprak yang dipentaskan pengusaha keturunan Tionghoa di Klaten yang tergabung dalam Perkumpulan Darma Bakti (PDB) Klaten di Aula SD Kristen 3 Klaten, Klaten Tengah, Klaten, Sabtu (10/3/2018) malam. (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Aksi Huang Hua Main Ketoprak di Klaten Bikin Penonton Ger-Geran
Warga yang tergabung dalam budi daya ikan di karamba membersihkan eceng gondok di Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Jumat (9/3/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Rawa Jombor Klaten Ditarget Bersih dari Eceng Gondok Sebelum Lebaran 2018
Pengurus Perkumpulan Darma Bakti menjelaskan rencana penampilan ketoprak pengusaha di ruang audio visual SD Kristen 3 Klaten, Selasa (6/3/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Puluhan Warga Keturunan Tionghoa bakal Main Ketoprak di Klaten
Balai Desa Gajahan, Colomadu, Karanganyar. (Iskandar/JIBI/Solopos) ASAL-USUL : Desa Gajahan Dipercaya sebagai Tempat Nyencang Gajah Keraton Kartasura